Ka. Prodi Manajemen Bencana jadi Pembicara dalam Seminar “Dari Data ke Daya: Optimalisasi Energi Melalui Teknologi Geospasial.”

Program Studi Manajemen Bencana turut berpartisipasi aktif dalam seminar nasional yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi PLN melalui Program Studi Geografi dengan tema “Dari Data ke Daya: Optimalisasi Energi Melalui Teknologi Geospasial.” Kegiatan yang berlangsung pada 7 April 2026 ini, menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan peneliti dalam membahas peran teknologi geospasial untuk mendukung pengambilan keputusan di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT).

Seminar yang berlangsung secara Hybrid tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor ITPLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K., MT., IPU., ASEAN Eng., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi geospasial memiliki peran yang semakin strategis dalam menjawab tantangan sektor energi yang kian kompleks. Menurutnya, tuntutan terhadap efisiensi, akurasi, dan keberlanjutan tidak lagi dapat dipenuhi melalui pendekatan konvensional, melainkan membutuhkan dukungan data spasial yang presisi sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat dan adaptif.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi, di antaranya Himmet Sihombing dari PLN UIT JBB, Bono Pranoto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Sondang Riski Wanti Sihombing dari sektor industri.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Program Studi Manajemen Bencana, Widya Soviana, turut menjadi pembicara dengan mengangkat tema “Peran Data Geospasial dalam Respon Bencana: Pembelajaran dari Banjir Aceh 26 November 2025 dalam Perspektif Manajemen Bencana dan Ketahanan Energi.”

Dalam paparannya, disampaikan bahwa data geospasial memiliki peran krusial dalam meningkatkan kecepatan dan ketepatan respon bencana, khususnya dalam konteks distribusi energi saat kondisi darurat. Studi kasus banjir Aceh menunjukkan bahwa keterbatasan akses energi di wilayah terdampak tidak hanya memperlambat proses evakuasi dan penanganan korban, tetapi juga berdampak pada terganggunya sistem komunikasi dan logistik.

Lebih lanjut, ditekankan bahwa integrasi antara peta risiko bencana dan peta infrastruktur energi menjadi kebutuhan mendesak dalam perencanaan wilayah. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan sistem energi yang lebih tangguh, terdesentralisasi, serta adaptif terhadap kondisi darurat.

Partisipasi Prodi Manajemen Bencana dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen akademik dalam mendorong kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam mengintegrasikan aspek kebencanaan dan ketahanan energi berbasis data. Diharapkan, hasil diskusi dalam seminar ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan kebijakan dan implementasi teknologi geospasial untuk mendukung pembangunan berkelanjutan yang tangguh terhadap bencana.

Komentar